Sabtu, 05 Mei 2012

Merajut Perbedaan, Membangun Kebersamaan

 
 Oleh: Abdul Syukur
Pendahuluan
         Adanya diversitas –etnik, budaya, bahasa, maupun agama—adalah fakta yang tidap dapat dibantah. Ia adalah hukum alam (sunnatullah) dan, oleh karena itu, sejarah memperlihatkan bahwa setiap proses ke arah penyeragaman dari kenaeka-ragaman yang cenderung menemui kegagalan, karena bukan saja ia harus menyatukan bermacam-macam kepala dan kehendak dari manusia yang berbeda tetapi ia juga bertentangan dengan hukum alam (sunnatullah) yang mesyaratkan adanya perbdaan dalam kehidupan manusia.
          Petuah Begawan Prapanca “Bhinneka Tunggal Ika”, yang kemudian menjadi semboyan negara Indonesia, sangat menyadari adanya keaneka-ragaman atau diversitas agama, yaitu antara agama Hindu dan agama Buddha, tetapi ia juga kemudian mengingatkan perlunya kesadaran dan oengetahun tentang hakikat tujuan dari setiap agama yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
          Selain multi-etnik dan budaya, masyarakat Indonesia juga multi-agama. dalam melihat kenyataan yang demikian, para pendiri bangsa memperlihatkan sikap yang sungguh sangat bijaksana ketika merumuskan dasar dan falsafah Negara Indonesia, yaitu Pancasila. Diktum pertama dari Pancasila, “Ketuhan Yang Maha Esa”, merupakan consensus sosilogis yang mengikat semua warga negara dengan latar belakang agama yang berbeda.
           Tidak dipungkiri adanya perbedaan atau keaneka-ragaman kerap menimbulkan konflik di masyarakat. Dalam satu hal, kepercayaan agama dapat mengikat manusia yang berbeda latar belakang –status sosial, ekonomi, ras, etnik, geografis—ke dalam ikatan solidaritas sosial yang sangat erat. Di lain pihak, masalah agama adalah masalah yang sangat sensitive sehingga tidak jarang terjadi konflik sosial yang disebabkan oleh adanya perbedaan agama maupun pemahaman, atau menjadikan agama sebagai alat untuk meraih tujuan-tujuan dan kepentingan pribadi tertentu. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita menyikapi dan mengelola perbedaan agama sehingga perbedaan tersebut tidak membawa kepada bencana melainkan mendatangkan rahmat dalam kehidupan bersama?

Bukankah Tuhan itu Hanya Satu?
          Ketika mendiang Soekarno mengemukakan perumpamaan bahwa adanya pluralitas agama itu ibarat beberapa orang buta yang berusaha mengenali bentuk gajah, memang dapat menyesatkan dan disalah-tafsirkan bahwa perumpamaan tersebut sama dengan menganggap “benar” semua agama yang ada. Akan tetapi, di balik perumpamaan tersebut terdapat makna filosofis yang sangat dalam, bahwa hakikat Tuhan itu terlalu besar untuk dipahami oleh akal pikiran manusia yang naïf. Akibatnya, setiap pemahaman manusia, siapapun orangnya, tentang Tuhan, adalah terbatas dan setiap penafsiran, di mana pun manusia berada, tentang Kebenaran Tuhan bersifat relatif.
          Orang yang beragama harus yakin terhadap kebenaran agamanya masing-masing. Di samping itu, setiap orang, setiap pemeluk agama, juga harus belajar menghargai kebenaran agama sebagaimana yang dipahami orang lain. Kesalahan yang sering terjadi baik di masa lampau maupun masa sekarang di kalangan orang-orang tertentu adalah menganggap bahwa kebenaran agama yang dianutnya adalah yang paling benar –memang harus demikian!- dan memaksa orang lain untuk mengikuti pemahaman tentang kebenaran agama yang dipeluknya tersebut menurut jalan pikirannya sendiri.
          Kalau Tuhan itu hanya satu, dan hakikat Tuhan itu terlalu agung untuk dibatasi oleh akal-pikiran manusia yang kerdil, mengapa terlalu khawatir ketika orang, dengan maksud untuk mencari Kebenaran, harus mempelajari agama orang lain? Hal ini biasanya karena orang merasa puas dengan cara berpikir secara parsial dan, yang secara substansial, bneragama atau memeluk suatu agama tidak didorong oleh rasa cinta kepada Tuhan yang universal. Salah satu contohnya adalah kasus penghancuran Masjid Babri di Ayodhya, India, pada awal tahun 1990-an.
           Bagi orang Hindu, Rama yang lahir di Ayodhya dianggap sebagai avatar atau penjelmaan Dewa Visnu dan Visnu manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu didirikanlah candi di tempat tersebut sebagai peringatan bahwa di sana tempat dilahirkannya Rama. Namun pada masa kekuasaan muslim Moghul yang anti berhala, candi tersebut dirobohkan dan, sebagai gantinya, kemudian didirikanlah masjid Babri di atas reruntuhan candi tersebut. Akibatnya, orang Hindu yang sadar akan makna sebuah candi menuntut kembali tempat itu dan terjadilah aksi penghancuran masjid Babri tersebut. bukan hanya candid an mesjid saja yang hancur, tetapi juga tidak tidak sedikit korban jiwa yang melayang baik dari kalangan Hindu maupun Muslim. Tidak berapa lama berselang, di Indonesia, terjadi pula penghancuran gereja oleh orang-orang Islam (lokasi persisnya tidak tahu) di Jawa Timur. Dan penghancuran gereja di Jawa Timur, disusul kemudian terjadinya pengrusakan beberapa mesjid dan gereja Protestan di Timor Timur.
           Kita tahu betapa orang Hindu menghormati dan mencintai Rama yang dianggap sebagai penjelmaan Visnu sebagaimana orang Islam mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tetapi orang juga tahu arti sebuah mesjid bagi orang muslim di mana orang Islam melakukan sujud dan memanjatkan doa sebagaimana orang mengetahui arti sebuah gereja bagi orang Kristen di mana mereka memuja Yesus dan memohon rahmat Allah Bapa. Sekarang pertanyaannya adalah: apakah demi kecintaannya terhadap Rama dan Visnu maka orang-orang Hindu dibenarkan menyakiti hati umat muslim? Pertanyaan yang sama juga berlaku: apakah demi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga umat Islam dibenarkan menghancurkan gereja umat Kristen? Atau, apakah Allah Bapa dan Yesus Kristus merasa senang manakala orang Kristen menghina Nabi dan Kitab Suci umat Islam?
           Kepercayaan orang Hindu terhadap Visnu, keyakinan umat Islam terhadap Allah dan pengakuan umat Kristen terhadap Ketuhanan Yesus, tidak berarti bahwa Tuhan itu banyak sehingga memingkinkan adanya anggapan bahwa Tuhan itu banyak dan terjadi pengkavlingan wilayah kekuasaan Tuhan. Tidak berarti bahwa orang Hindu diciptakan oleh dan mendapat rizki dari Visnu, orang Islam diciptakan oleh dan memperoleh rahmat dari Allah, sedangkan orang Kristen diciptakan oleh Allah Bapa dan menerima rahmat dan anugrah dari Yesus Kristus. Yang benar adalah: hanya ada satu Tuhan, Dialah Pencipta alam semesta dan semua manusia baik yang beragama Hindu, Islam, maupun Kristen dan yang lainnya.

Pulang ke Rumah, Buka Jendela dan Tengok Tetangga
          Suatu ketika dalam diskusi umum, Ninian Smart pernah ditegur oleh seorang ahli teologi Kristen karena Smart membahas masalah penciptaan selain dari sudut pandang agama Kristen juga dari perspektif agama Buddha. “Apa perlunya kita memperbincangkan agama Buddha, bukankah agama Buddha itu bertentangan dengan Injil, dan Injil agama Kristen adalah kebenaran mutlak yang kita perlukan?”. Kemudian Smart dengan ringkas menjawab, “Sesungguhnya, untuk mengetahui bahwa agama Buddha itu bertentangan dengan Injil agama Kristen anda mesti banyak membaca”. Dan ini pula yang penulis maksudkan ketika menulis kutipan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits di muka. Ini tidak berarti bahwa kita belajar dan mengetahui agama yang lain untuk saling menghujat dan menepuk dada sendiri. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu introspeksi: berkaca untu melihat diri sendiri. Karena berkaca memerlukan cermin dari orang lain maka setiap agama, setiap orang, perlu saling belajar dari orang lain,.
          Orang yang beragama adalah ibarat seorang hamba sahaya yang berkelana mencari tuannya, berjalan dari suatu tempat ke tempat lainnya, bertanya kepada setiap orang yang kebetulan berjumpa di tengah perjalanannya, tetapi ia tidak pernah tahu bagaimana identitas tuannya tersebut. begitu juga dengan orang beragama atau manusia pada umumnya. Kita tidak pernah tahu bagaimana hakikat Tuhan yang sesungguhnya. Teologi bukan jawaban. Ia laksana orang yang mengukur berat gunung dengan neraca emas. Atau ibarat bocah kecil yang memasukkan air laut ke dalam botol mainannya. Kalau begitu, kemana kita harus mencari tuan kita?
          Pulang ke rumah masing-masing, karena di sanalah kita bisa berjumpa dan mengetahui tuan kita. Bukan berarti tuan kita banyak, tetapi karena dialah satu-satunya pemilik rumah kita semua. Tetapi di rumah mana ia berada? Di mana saja karena ia berkehendak demikian. Oleh karena itu bukanlah jendela rumah kita supaya kita dapat melihat matahari dan merasakan kehangatannya. Lewat jendela itu kita juga dapat melihat rumah orang lain justru karena ada cahaya matahari. Orang tidak akan dapat melihat suatu objek atau benda kalau tidak ada cahaya. Dan yang lebih baik lagi apabila kita berkunjung dengan tetangga-tetangga kita.
          Dengan berkunjung kita akan lebih mengetahui keadaan tetangga kita yang sebenarnya. Dengan berkunjung kita akan mengetahui bahwa kamar mandi rumah kita lebih baik atau lebih kotor dari pada kamar mandi orang lain. Bagaimana kita mengetahui bahwa bangunan rumah kita itu bagus apabila kita tidak melihatnya dari luar rumah kita sendiri? Ini tidak berarti bahwa dalam studi agama-agama menuntut agnotisme metodologis atau bahkan ateisme untuk memenuhi criteria ilmiah sebagaimana diklaim oleh sebagian orang,[6] karena keluar rumah tidak berarti menjual rumah. Meskipun seseorang menginap di kamar tidur rumah orang lain tetapi kepemilikan rumahnya sendiri tidak menjadi lepas karenanya.
          Selain itu, dengan saling berkunjung kita dapat saling belajar. Dengan saling berkunjung kita maisng-masing akan mengetahui apa kekurangan dan kelebihan kita dan apa kelemahan dan kelebihan orang lain sehingga masing-masing dapat lebih memperbaiki diri lagi. Lebih dari itu, sebagai sesama tetangga kita dapat saling menjaga dalam rangka memelihara keamanan lingkungan bersama.

Mari Bergandeng Tangan
          Persoalannya sekarang justru terletak pada kemauan dari seriap umat beragama untuk saling berusaha memahami dan saling menghormati jalan berpikir satu sama lain, betapa pun berbeda. Atau, dengan kata lain, persoalannya adalah terletak pada pertanyaan: Adakah kemauan dan usaha untuk bekerja sama dari setiap umat beragama dalam realitas kehidupan yang plural? Tidakkah kita mau belajar dari taman bunga yang meskipun terdapat bermacam-macam bunga tetapi tidak ada bunga yang makan bunga? Sebaliknya, setiap bunga dengan warnanya masing-masing yang berbeda menyumbangkan keindahan kepada taman tersebut sehinga sedap dipandang mata. Saya kira ini pelru segera disadari dan kesadaran demikian akan terealisasi apabila disertai kesadaran bersa,a bahwa arus industrialisasi dan modernisasi telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam setiap bidang kehidupan manusia, termausk bidang keagamaan. Ini, disadari atau tidak, telah menjadi kenyataan dan kenyataan ini, bukan rahasia lagi, sulit dihindari.
          Efek samping dari arus industrialisasi dan modernisasi ini adalah tumbuh-suburnya sikap hidup yang materialistis dan terjadinya pendangkalan nilai-nilai spiritual yang adalah merupakan musuuh dari setiap jiwa agama. Oleh karena itu, tidaklah cukup kiranya bahwa setiap agama mengutuk materialisme sambil merasa puas dengan harapannya sendiri-sendiri. Sebaliknya, akan tampak lebih bijak apabila semua agama menjadikan proses pendangkalan nilai-nilai spiritual ini sebagai tantangan bersma dari setiap umat beragama. Adalah ironis seandainya setiap pemeluk agama masih senang bertengkar satu sama lain sementara musuh mereka sudah berada di depan mata dan bahkan telah merasuk dalam kehidupan mereka. Lebih ironis lagi adalah adanya pertengkaran yang terjadi antara sekte atau aliran dalam suatu agama tertentu sementara mereka mengakui berasal dari sumber yang sama. Quo vadis umat beragama. Jawabannya tiada lain: Mari kita bergandeng tangan!

www.interfidei.or.id

0 komentar:

Poskan Komentar