Rabu, 09 Mei 2012

Satu Tuhan Banyak Agama


Oleh: Alfian Ihsan*


Keberagaman agama merupakan keniscayaan yang tak bisa dihindari oleh manusia. Dalam perjumpaan antar agama dan interaksi antara para pemeluknya hendaknya menekankan sebuah sikap yang terbuka, toleran dan saling menghormati. Alangkah indahnya jika kehidupan yang majemuk terbingkai dalam kedamaian, sehingga tak ada lagi konflik dan pertikaian berbasis agama.

Untuk menghadirkan sikap yang terbuka dan toleran, Menurut Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat ini pemeluk mesti terlibat dialog dan perjumpaan dengan pemeluk agama yang lain. Hal ini agar umat beragama tidak terkejut untuk memasuki kehidupan dan pergaulan yang semakin global.

Pluralisme merupakan kata kunci dalam mewujudkan idealitas yang diharapkan. Sebuah sikap yang meyakini bahwa segenap agama – agama dan keyakinan adalah jalan – jalan keselamatan menuju Tuhan. Kemajemukan agama adalah kehendak Tuhan yang mutlak dan sebuah keniscayaan yang masing – masing berdiri sejajar. Karena itu satu agama tertentu tidak berhak memvonis benar tidaknya agama lain, karena pada dasarnya keselamatan dapat dicapai melalui berbagai agama.

Beberapa tokoh sufisme islam, yaitu Ibnu Arabi, Al-Rumi dan Al-Jili pada zaman perkembangan pemikiran islam masa klasik, kelompok sufisme memang cenderung lebih bersikap toleran dan plural terhadap agama lain. Hal ini karena mereka tidak hanya melihat suatu hal dari sisi fisik dan bentuknya ( eksoterik ) saja, tetapi mereka lebih fokus terhadap dimensi substantif atau esensi ( esoterisme).

Dengan kedalaman pengetahuan syariat, mereka telah mampu mengungkap makna dari sebuah ritual ibadah dan norma agama. Tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan menjalankan perintah, tapi lebih dari itu, ritual ibadah dan norma agama merupakan manifestasi dari perwujudan Tuhan untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia.

Lalu mengapa dalam perwujudan di dunia, muncul beragam agama dengan norma dan ibadah yang berbeda. Hal ini menurut Ibnu Arabi karena Tuhan Yang Satu menampakkan diriNya ( tajalli ) dalam wujud yang tak terbatas terhadap manusia yang memang diciptakan dengan karakter, kondisi dan lingkungan yang bermacam – macam.

Dengan kondisi yang bermacam – macam inilah, kualitas manusia dalam merespon tajalli Tuhan sesuai dengan kesiapan dan daya terima masing – masing. Hal ini merupakan akar dari terciptanya perbedaan agama berikut ibadah dan syariatnya.

Ibnu arabi mengatakan “ Esensi hanya satu, tetapi hukum-hukumnya beraneka. Hal yang demikian itu tidak tampak, kecuali bagi orang yang mengetahui.

Karena itu bagi Ibnu Arabi, meskipun Tuhan Maha Esa, tetapi kepercayaan-kepercayaan terhadapnya yang berimplikasi menjadi agama-agama, menjadikan DIA bermacam-macam. Maksudnya menghadirkan Dia dalam berbagai penampakanNya. Walau sesungguhnya Tuhan di dalam DiriNya sendiri mutlak tak terjangkau. Dia tak dapat dibatasi oleh apapun dan siapapun termasuk oleh kemahamutlakanNya. Dia sepenuhnya terlepas dari segala bentuk keterbatasan dan pembatasan.

Ibnu Arabi mengaitkan perbedaan tajalli dengan syariat para nabi dan rasul. Karena mereka diturunkan dalam waktu, masyarakat dan kondisi yang berbeda, maka syariat yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan mereka. Seperti firmanNya dalam Al-Qur’an “ Untuk tiap – tiap umat diantara kalian, Kami berikan jalan dan metode (aturan hidup)” (Al-Ma’idah: 48)

Setiap perbedaan yang terjadi merupakan Rahmat Tuhan, Ibnu Arabi mengatakan “ Ketika Tuhan adalah akar dari segala keragaman keyakinan di alam ini, dan ketika Dia yang menyebabkan eksistensi segala sesuatu di alam sesuai ketentuan tanpa terasuki oleh apapun, maka segala sesuatu ada karena Rahmat-Nya ”

Dalam perbedaan persepsi manusia yang menyebabkan munculnya beragam agama, Rumi menghendaki agar kita bisa lebih bijak dalam menyikapinya. Rumi menegaskan agar manusia selalu melihat sisi batiniah dan jangan hanya terjebak pada wujud lahiriah. Karena masing – masing bentuk di dunia ini memiliki maknanya sendiri – sendiri di dalam Tuhan, yaitu dalam sekumpulan bentuk terdapat kesatuan makna.

Dalam puisinya Rumi menyatakan :

Lampu – lampu memang berbeda, namun cahanya satu dan sama

Lampu barang – barang tembikar dan sumbunya boleh berbeda

Tetapi cahanya satu dan sama

Cahaya itu berasal dari Tuhan

Bagi Rumi, hal terpenting untuk dipahami dan dihayati adalah esensi bukan semata manifestasinya, atau dalam bahasa lain adalah mutiaranya bukan kerangnya, Seseorang yang telah memahami isi, esensi dan makna dibalik bentuk atau kata maka yang dilihat dan dipahaminya adalah satu; kesatuan segala bentuk dan manifestasi, karena esensi hanya satu, tidak beragam dan tidak berbilang.

Hendaknya kita memahami bahwa agama – agama ibarat kendaraan bagi manusia untuk menempuh perjalanan dan bukan tujuan mereka menempuh hidup. Perbedaan hanya pada bentuk dan ritus, tetapi tidak pada watak sejati iman. Karena esensi iman hanya satu, yaitu kepada Tuhan Yang Maha Absolut, Tuhan yang tidak terbatasi oleh ruang, waktu dan imajinasi manusia. Esensi dari keimanan adalah sebuah kerinduan manusia yang mendambakan, bergantung dan mencintaiNya, meski dengan ekspresi yang berbeda.

Ketika manusia telah mampu melampaui simbol dan formalitas agama lalu melihat ke dalam batin, maka yang dia temui bukanlah nama atau bentuk, melainkan dimensi esoterik dengan satu kesempurnaan yang sama, hanya merasakan satu cinta kepada Tuhan yang sama. Maka sampailah dia kepada apa yang disebut Rumi sebagai “Agama Cinta”, Cinta kepada Tuhan sebagai bentuk keimanan yang paling tinggi mengarahkan segenap pengabdian manusia kepadaNya.

Al Jili menyatakan bahwa Dzat Tuhan Yang Hakiki tidak terbatas seperti apa yang dinamai dan dikonsepkan oleh manusia. Tapi Tuhan secara Mutlak berada di balik lahiriah nama – nama dan atribut – atribut dalam konsepsi manusia. Karena sesungguhnya Dzat Tuhan mencakup keseluruhan penampakan, manifestasi, nama, sifat, ketetapan dan kesempurnaanNya.

Sehingga hanya ada Tuhan Yang Satu dan Sama yang menjadi objek sesembahan semua pemeluk agama yang beriman akan keberadaanNya. Oleh karena itu, setiap pengabdian spiritual para pemeluk agama yang beraneka akan bertumpu pada satu Tujuan, yaitu Tuhan sebagai Zat yang juga menjadi Sumber Asal – Muasal mereka.

Di hadapan makna, apalah arti bentuk!

Makna langit tetap tersembunyi di tempat persembunyiannya

( Rumi )

*Ketua Umum PMII Komisariat Dukuhwaluh 2012-2013

0 komentar:

Poskan Komentar